12entinfujirahayu

Just another WordPress.com site

pengelompokan peserta didik May 4, 2011

Filed under: pendidikan — 12entinfujirahayu @ 8:07 am

Pengelompokan Peserta Didik

  1. A.    Perlunya Pengelompokan

Entin

Pengelompokan atau lazim dikenal dengan grouping didasarkan atas pandangan bahwa disamping peserta didik tersebut mempunyai kesamaan, juga mempunyai perbedaan. Kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran penempatan pada kelompok yang sama, sementara perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran pengelompokan mereka pada kelompok yang berbeda.
Jika perbedaan antara peserta didik satu dengan yang lain dicermati lebih mendalam, akan didapati perbedaan antara individu dan perbedaan intra individu. Yang pertama berkenaan dengan berbedanya peserta didik satu dengan yang lain dalam kelas, dan yang kedua berkenaan dengan berbedanya kemampuan masing-masing peserta didik dalam berbagai mata pelajaran atau bidang studi.
Perbedaan antar peserta didik dan intra peserta didik ini mengharuskan layanan pendidikan yang berbeda terhadap mereka. Oleh karena layanan yang berbeda secara individual demikian dianggap kurang efisien, maka dilakukan pengelompokan berdasarkan persamaan dan perbedaan peserta didik, agar kekurangan pada pengajaran secara klasikal dapat dikurangi. Dengan perkataan lain, pengelompokan adalah konvergensi dari pengajaran sistem klasikal dan sistem individual.
Alasan pengelompokan peserta didik juga didasarkan atas realitas bahwa peserta didik secara terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik satu dengan yang lain berbeda. Agar perkembangan peserta didik yang cepat tidak mengganggu peserta didik yang lambat dan sebaliknya (peserta didik yang lambat tidak mengganggu yang cepat), maka dilakukanlah pengelompokan peserta didik . Tidak jarang dalam pengajaran yang menggunakan sistem klasikal, peserta didik yang lambat, tidak akan dapat mengejar peserta didik yang cepat.

  1. B.     Pengertian, Tujuan dan Fungsi Pengelompokan Peserta Didik

”Pengelompokan atau grouping adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya” ( Ali Imron, 1995: 75). Karakteristik demikian perlu digolongkan, agar mereka berada dalam kondisi yang sama. Adanya kondisi yang sama ini bisa memudahkan pemberian layanan yang sama. Oleh kerena itu, pengelompokan (grouping) ini lazim dengan istilah pengklasifikasian (clasification). Tim Dosen  AP (1989: 99) menyimpulkan “Pengelompokan siswa diadakan dengan maksud agar pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah bisa berjalan lancar, tertib, dan bisa tercapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah diprogramkan” .
Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pengelompokan bukan dimaksudkan untuk mengkotak-kotakkan peserta didik, melainkan justru bermaksud membantu mereka agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Jika maksud pengelompokan demikian malah tidak tercapai, maka peserta didik justru tidak perlu dikelompokan atau digolong-golongkan.
Dengan adanya pengelompokan peserta didik juga akan mudah dikenali. Sebab, tidak jarang, peserta didik di dalam kelas, berada dalam keadaan heterogen dan bukannya homogen. Tentu, heterogenitas demikian, seberapa dapat diketahui tingkatannya sangat bergantung kemampuan diskriminan alat ukur yang digunakan untuk membedakan. Semakin tinggi tingkat kemampun membedakan alat ukur yang dipergunakan, semakin tinggi pula tingkat heterogenitas peserta didik yang ada di sekolah.
Adapun alat ukur yang lazim dipergunakan untuk membedakan peserta didik antara lain adalah tes. Dalam hal ini, banyak tes yang dapat dipergunakan untuk membedakan peserta didik. Tes kemampuan umum seperti tes kemampuan verbal dan numerikal, dapat dipergunakan untuk membedakan kemapuan umum peserta didik. Tes minat dapat dipergunakan untuk membedakan minat yang dimiliki oleh peserta didik. Tes prestasi belajar dapat dipergunakan untuk membedakan daya serap masing-masing peserta didik terhadap bahan ajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik. Tes kepribadian dipergunakan untuk membedakan integritas dan kepribadian peserta didik. Dan, masih banyak lagi jenis-jenis tes lain yang dapat membedakan kemampuan peserta didik.

  1. C.    Jenis-Jenis Pengelompokan Peserta Didik

Ada banyak jenis pengelompokan peserta didik yang dikemukakan oleh para ahli. Mitchun ( Ali Imron, 1995: 74)  mengemukakan dua jenis pengelompokan peserta didik. Yang pertama, ia namai dengan ability grouping, sedangkan yang kedua ia namai dengan sub-grouping with in the class. Yang dimaksud ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan di dalam setting sekolah. Sedangkan sub- grouping with in the class adalah pengelompokan dalam setting kelas.
Pengelompokan yang didasarkan atas kemapuan adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik yang pandai dikumpulkan dengan yang pandai, yang kurang pandai dikumpulkan dengan yang kurang pandai. Sementara pengelompokan dalam setting kelas adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik pada masing-masing kelas, dibagi lagi menjadi beberpa kelompok kecil. Pengelompokan ini juga memberi kesempatan kepada masing-masing individu untuk masuk ke dalam lebih dari satu kelompok.

Pengelompokkan berdasarkan kemampuan dalam setting sekolah meliputi:

  1. 1.      Pengelompokan dalam kelas-kelas

Agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, peserta didik yang berjumlah besar perlu dibagi-bagi- menjadi kelompok-kelompok yang disebut kelas. Banyaknya kelas disesuaikan dengan jumlah p eserta didik yang baru diterima, sedangkan jumlah peserta didik untuk(besarnya kelas=class size),  untuk setiap tingkat dan jenis sekolah bisa berbeda.

Sebagai pedoman dibawah ini:

a. untuk tingkat Sekolah Dasar besar kelas jangan sampai melebihi 50 orang siswa.

b. Untuk tingkat Sekolah Menengah Umum besar kelas sekitar 40 orang  siswa.

c. Untuk Sekolah Menengah Kejuruan besar kelas lebih baik kurang dari 40

orang siswa.

Dalam menentukan berapa besar kelas ini, berlaku prinsip semakin kecil kelas semakin baik. Karena, dengan demikian guru akan bisa lebih memperhatikan peserta didiknya secara teliti.

  1. 2.      Pengelompokan berdasarkan bidang studi

Pengelompokan berdasar bidang studi yang lazim disebut juga dengan istilah penjurusan, ialah pengelompokan siswa yang disesuaikan dengan minat dan bakatnya. Pengukuran minat dan bakat ini didasarkan pada hasil prestasi belajar(angka-angka) yang dicapai dalam matapelajaran-matapelajaran yang diikuti. Berdasarkan hasil yang telah dicapai dalam berbagai matapelajaran itulah seorang siswa diarahkan pada jurusan dimana ia memperoleh nilai-nilai  baik pada matapelajaran untuk jurusan tersebut. Contohnya: kalau di Sekolah Menengah Atas seperti penjurusan IPA, IPS, bahasa dan lain sebagainya.

  1. 3.      Pengelompokkan berdasarkan spesialisasi

pengelompokkan berdasarkan spesialisasi( pengkhususan) terdapat pada Sekolah-Sekolah Menengah Kejuruan. Pengelompokkan berdasar spesialisasi pada hakekatnya sama dengan penjurusan, namun penjurusannya lebih mengkhususkan pada bidang studi, misalnya penjurusan di Sekolah Menengah Kejuruan seperti jurusan kecantikan, tata boga, dan lain-lain.

  1. 4.      Pengelompokkan dalam sistem kredit

Pengajaran sistem kredit ialah sistem pengajaran yang menggunakan ukuran satuan kredit untuk memberikan bobot bagi setiap mata pelajaran. Bobot satu kredit, lengkapnya satu satuan kredit semester (1Sks). Di Perguruan Tinggi, pengajaran sistem kredit bisa dilaksanakan dengan dua cara, yaitu sistem kredit dengan sistem paket dan sistem kredit dengan sistem sistem pilihan. Dalam sistem kredit dengan sistem paket, untuk tiap semester telah ditentukan matakuliah-matakuliah apa saja yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik. Sehingga pengelompokkan ini tidak ada bedanya dengan pengajaran biasa (bukan sistem kredit). Sistem kredit dengan sistem pilihan pada semester I (permulaan mahasiswa baru mengikuti perkuliahan) dilakukan sistem paket. Seluruh mahasiswa harus mengikuti sejumlah matakuliah yang disajikan pada semester I yang pada umumnya adalah matakuliah dasar umum dan matakuliah prasyarat. Sistem paket mungkin bisa diteruskan sampai semester II. Tapi juga bisa sejak semester II sudah dimulai dengan sistem pilihan. Setiap mahasiswa diberi kebebasan untuk memprogram dan memilih matakuliah yang disajikan. Inilah yang disebut dengan sistem kredit dengan sistem pilihan. Dengan demikian pengelompokkan mahasiswa didasarkan pada peserta matakuliah, atau disebut juga dengan pengelompokkan berdasar matakuliah. Jika kelompok peserta  matakuliah terlalu besar jumlahnya, bisa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Yang masing-masing berukuran 30 atau 40 mahasiswa.

  1. 5.      Pengelompokkan berdasarkan kemampuan

Pengelompokkan berdasarkan kemampuan (ability grouping) pernah dilakukan di Sekoalah Dasar Laboratorium Universitas Negeri Malang. Pada setiap awal tahun ajaran diadakan “pemeriksaan” terhadap tingkat kemampuan belajar. Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan tes-tes keberhasilan belajar (achievement tes). Berdasarkan hasil/ prestasi yang dicapai, siswa-siswa dalam kelas dikelompokkan dalam tiga golongan yaitu: kelompok cepat, kelompok sedang, kelompok lambat. Materi pelajaran yang diberikan sesuai dengan kelompok-kelompok tersebut. Demikian seorang guru dalam mengajar harus menyiapkan materi untuk tiga kelompok dan melayani ketiga kelompok tersebut. Pengelompokkan ini disebut “achievement  grouping”.

Pembagian siswa dalam kelompok di atas, untuk setiap matapelajaran bisa berbeda. Contoh: Amir, untuk pelajaran matematika termasuk kelompok cepat. Untuk bahasa Indonesia bisa masuk kelompok sedang, dan mata pelajaran lain untuk matapelajaran lain. Namun, status kelompok ini sifatnya tidak permanen. Seorang yang termasuk kelompok sedang, suatu saat karena prestasinya naik bisa dipindahkan ke kelompok cepat begitu sebaliknya.

  1. 6.      Pengelompokkan Berdasarkan minat

Pengelompokkan berdasarkan minat banyak dilaksanakan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Oleh karena kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler cukup banyak jenisnya, maka kepada para siswa diberi kebebasan untuk memilih jenis kegiatan sesuai dengan minatnya. Jenis kegiatan yang diselenggarakan disesuaikan dengan jumlah kelompok peminatnya. Jenis kegiatan yang hanya diminati oleh sekelompok kecil siswa, lebih baik tidak diadakan dan peminatnya bisa dialihkan kejenis kegiatan lain. Jika mungkin seluruh siswa harus mengikuti salah satu jenis kegiatan ekstrakurikuler. Sebaliknya seorang siswa jangan dibiarkan tidak mengikuti sama sekali atau terlalu banyak kegiatan ekstrakurikuler ini agar tidak mengganggu belajarnya.
Adapun kelompok-kelompok kecil pada masing-masing kelas demikian dapat dibentuk berdasarkan karakteristik individu. Ada beberapa macam kelompok kecil di dalam kelas ini, yaitu:
1. Pengelompokan Berdasarkan Minat (Interest Grouping)
Yang dimaksud dengan interest grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas minat peserta didik. Peserta didik yang berminat pada pokok bahasan tertentu, pada kegiatan tertentu, pada topik tertentu atau tema tertentu, membentuk ke dalam suatu kelompok.
2. Pengelompokan Berdasarkan Kebutuhan Khusus (Special Need Grouping)
Yang dimaksud dengan special need grouping, adalah pengelompokan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan khusus peserta didik. Peserta didik yang sebenarnya sudah tergabung dalam kelompok-kelompok, dapat membentuk kelompok baru untuk belajar ketrampilan khusus.
3. Pengelompokan Beregu (Team Grouping)
Yang dimaksdud dengan team grouping adalah suatu kelompok yang terbentuk karena dua atau lebih peserta didik ingin bekerja dan belajar secara bersama memecahkan masalah-masalah khusus.
4. Pengelompokan Tutorial (Tutorial Grouping)
Yang dimaksud dengan tutorial grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik bersama-sama dengan guru merencanakan kegiatan-kegiatan kelompoknya. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh kelompok bersama dengan guru tersebut, telah disepakati terebih dahulu. Antara kelompok satu dengan yang lain, bisa berbeda kegiatannya, karena mereka sama-sama mempunyai otonomi untuk menentukan kelompoknya masing-masing.

5.  Pengelompokan Penelitian (Research Grouping)
Yang dimaksud dengan research grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih peserta didik menggarap suatu topik khusus untuk dilaporkan di depan kelas. Bagaimana cara penggarapan, penyajian serta sistem kerja yang dipergunakan bergantung kepada kesepakatan anggota kelompok.
6. Pengelompokan Kelas Utuh (Full-Class Grouping)
Yang dimaksud dengan ful-class grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik secara bersama-sama mempelajari dan mendapatkan pengalaman di bidang seni. Misalnya saja kelompok yang berlatih drama, musik, tari dan sebagainya.
7. Pengelompokan Kombinasi (Combined Class Grouping)
Yang dimaksud dengan combined class grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih kelas yang dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk bersama-sama menyaksikan pemutaran film, slide, TV dan media audio visual lainnya.
Menurut Regan(Khusnuridlo, 2010)  ada 7 macam pengelompokan atau grouping. Pengelompokan yang dikemukakan oleh Regan tersebut didasarkan atas realitas pendidikan di sekolah dasar. Ketujuh pengelompokan tersebut adalah:

  1. a.      SD Tanpa Tingkat (The Non Grade Elementary School)

            Yang dimaksud dengan the non grade elementary school adalah sekolah dasar tanpa tingkat. Sekolah dasar tanpa tingkat ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengambil mata pelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing individu peserta didiknya. Bahkan peserta didik dapat mengambil mata pelajaran yang mungkin sama dengan mereka yang angkatan masuknya tidak sama.
Pada sistem demikian, tidak ada peserta didik yang dinyatakan naik tingkat dan peserta didik yang tidak naik tingkat. Sebab, tingkat itu sendiri, dalam sistem yang demikian tidak dikenal. Adanya kelas, tidak menunjukkan tingkatannya, melainkan lebih dipandang sebagai kode atau ruang kelas.
Sistem sekolah dasar tanpa tingkat ini, menggunakan sistem pengajaran secara kelompok, di mana seorang guru melayani kelompok-kelompok yang anggota kelompok tersebut mempunyai kemajuan, keinginan dan kebutuhan yang sama. Mereka mempunyai kesamaan demikian, tidak saja yang berada satu angktan melainkan dapatbjuga dari angkatan tahun yang berbeda-beda.
Adapun keuntungan sistem pengelompokan demikian adalah sebagai berikut:
1). Secara psikologis, kebutuhan peserta didik terpenuhi, karena tidak pernah

dipaksa untuk  melaksanakan sesuatu yang dia sendiri tidak bisa, tidak suka

dan tidak mampu.
2). Peserta didik tidak bosan, oleh karena pengajaran yang diberikan diesuikan

dengan minat dan kemampuannya.
3). Peserta didik akan dapat dibantu sesuai dengan tingkat dan  kecepatan

perkembangannya.
4). Peserta didik akan puas, oleh karena apa yang ia dapatkan sesui benar dengan

yang mereka inginkan.
5). Terdapat kerja sama yang baik antara peserta didik dengan gurunya, karena di

antara mereka tidak terjadi perbedaan interpretasi (mis-intepretation).
6). Peserta didik akan merasa mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik.
Disamping ada kelebihan-kelebihan pengelompokan jenis ini, ada juga kekurangan-kekurangannya, yaitu:
1). Sangat sulit pengadministrasiannya, karena harus menyesuaikan dengan

kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda.
2). Menyulitkan mutasi peserta didik ke sekolah lain, terutama jika peserta didik

harus pindah ke sekolah lain yang menggunakan sisitem tingkat. Tidak hanya

itu, peserta didik juga akan sulit mutasi jika di sekolah lain tersebut, jenis

pengelompokannya tidak sama dengan sekolah asal.
3). Tidak efisien, karena membutuhkan biaya, tenaga dan ruang kelas yang

banyak. Tenaga yang tersedia didasarkan atas jumlah kelas atau tingkat yang

ada, melainkan berdasarkan banyaknya kelompok yang relatif lebih banyak

jumlahnya.
4). Membutuhkan guru yang tinggi tingkatan komitmen dan tingkat

kecermatannya, sebab hanya demikian akan dapat mengetahui karakteristik

peserta didik secara individual.
5). Karena segalanya banak bergantung kepada peserta didik, maka sulit

mengharapkan tercapainya kompetensi yang diharapkan. Sebab, kompetensi

haruslah dirancang berdasarkan seperangkat pengalaman belajar tertentu.

  1. b.      Pengelompokan Kelas Rangkap (Multigrade and Multi-Age Grouping)

Yang dimaksud dengan mutigrade and mult- age grouping adalah pengelompokan yang multi tingkat dan multi usia. Pengelompokan demikian dapat terjadi pada sekolah-sekolah yang menggunakan sistem tingkat. Pada pengelompokan demikian, peserta didik berbeda usianya, dikelompokkan dalam tempat yang sama. Mereka berinteraksi dan belajar bersama-sama.
Adapun keuntungan pada sistem pengelompokan demikian adalah sebagai berikut:
1). Mendorong cepatnya sosialisasi peserta didik dengan lingkungan sebayanya.
2). Peserta didik yang berada pada tingkat-tingkat awal dan yang relatif lebih

sedikit usianya akan dapat belajar banyak kepada peserta didik yang lebih

tinggi tingkatannya, dan lebih tua usianya.
3). Peserta didik yang usianya lebih muda dan lebih rendah tingktannya, jika

mempunyai kemampuan yang tinggi akan semakin mempunyai kepercayaan

diri.
4). Heterogenitas peserta didik dalam pengelompokan demikian, akan mendorong

kuatnya kompetisi mereka. Hal demikian akan sangat menguntungkan bagi

pemacuan prestasi.

Sedangkan kekurangan sistem pengelompokan demikian adalah sebagai berikut:
1). Peserta didik yang lebih rendah tingkatannya, dan yang lebih rendah tingkatan

usianya, akan merasa dipaksakan menyesuaikan diri dengan peserta didik yang

lebih tinggi usia dan tingkatannya. Hal demikian bisa kurang menguntungkan,

lebih-lebih jika mereka mempunyai kemampuan rendah. Pemaksaan demikian,

tidak jarang menjadikan peserta didik yang tertinggal akan kian frustasi.
2). Peserta didik yang lebih tinggi usianya dan lebih tinggi tingkatannya, akan

menjadi malas jika mendapati bahwa anggota kelompok lain yang berasal dari

usia dan tingkat yang lebih rendah ternyata tidak dapat berbuat banyak untuk

kelompoknya. Sebaliknya, jika ternyata lebih tinggi kemampuannya, akan

merasa dirinya tersaingi dan bisa menjatuhkan privacy-nya.

  1. c.        Pengelompokan Kemajuan Rangkap (The Dual Progress Plan Grouping)

Yang dimaksud dengan the duel progress plan grouping adalah sistem pengelompokan kemajuan rangkap. Sistem pengelompokan demikian dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan kemampuan individual di setiap umur dan setiap tingkat. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas guru sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
Dengan sendirinya, sistem pengelompokan demikian, sebanyak ragam dan heterogenitas peserta didik di sekolah tersebut. Semakin heterogen kelompok semakin banyak; sebaliknya semakin homogen semakin sedikit. Homogenitas dan heterogenitas demikian lebih diaksuentasikan kepada bakat peserta didik. Dengan demikian, layanan yang diberikan oleh guru lebih banyak diaksuentasikan kepada bakat khusus yang dimiliki oleh peserta didik tersebut.
Keuntungan sistem pengelompokan kemajuan rangkap demikian ini adalah sebagai berikut:
1). Guru lebih banyak mengenal peserta didiknya, oleh karena layanan yang

diberikan bersifat individual.
2). Layanan yang diberikan oleh guru benar-benar sesuai dengan yang

dibutuhkan, karena lebih diarahkan pada pelayanan bakat khusus peserta didik.
3). Peserta didik semakin mengenal lebih dekat mengenai gurunya. Hal demikian

sangat bermanfaat terutama dalam hal memahami watak, kepribadian dan cara

mengajarnya.
4). Peserta didik yang tampak menonjol bakat khususnya akan cepat maju oleh

karena secepat mungkin mendapatkan layanan dari gurunya. Kecepatan untuk

maju ini juga didukung oleh layanan pembinaan yang terarah dari gurunya

terhadap bakat khusus yang tampak menonjol tersebut.

Sementara itu, kekurangan sistem pengelompokan kemajuan rangkap adalah sebagai berikut:
1). Layanan yang diberikan oleh guru kepada seluruh peserta didik menjadi

terbatas. Disamping disebabkan oleh jumlah kelompok yang sangat banyak,

waktu guru yang terbatas banyak dihabiskan untuk menyusun strategi

penyampaian kepada masing-masing kelompok yang beraneka tuntutan dan

kebutuhan.
2). Peserta didik sedikit kemungkinannya untuk maju secara kontinyu oleh karena

peserta didik tidak memenuhi standar untuk naik tingkat harus mengulangi

tugas-tugas guru sejak awal di tingkatnya.

  1. d.       Penempatan Sekelompok Siswa pada Seorang Guru (Self

                 contained Classroom)
Yang dimaksud dengan self-contained classroom adalah penempatan sekelompok peserta didik pada seorang guru sementara itu, sekelompok peserta didik yang lainnya ditempatkan pada guru lainnya.
Beberapa keuntungan self-contained classroom adalah:
1). Guru akan mengenal peserta didik lebih mendalam, oleh karena lebih banak

bertanggungjawab terhadap kelompok peserta didik yang diajar.
2). Peserta didik akan lebih leluasa berpartisipasi dalam kelompoknya.
3). Waktu yang dipergunakan pengajaran relatif lebih fleksibel.
4). Guru akan banyak membantu terhadap kelompok yang menjadi tanggung

jawabnya.
5). Memungkinkan kompetisi yang sehat antara kelompok satu dengan kelompok

lain, hal ini akan memacu kemajuan kelompok.

Sedangkan kekurangannya adalah:
1). Peserta didik hanya mendapatkan pengalaman dari seorang guru. Pada hal,

pengalaman dari banyak guru sangat penting bagi mereka. Peserta didik

sesungguhnya sangat membutuhkan pengalaman dari banyak guru.
2). Pengelompokan ini, mengharuskan guru menguasai banyak bidang secara

general. Pada hal, penguasaan yang luas menyangkut banyak bidang,

menjadikannya tidak mendalam terhadap yang ia kuasai. Bagaimanapun,

kemampuan guru terbatas.
3). Oleh karena guru lebih banak berkelompok dengan peserta didiknya yang

menjadi kelompoknya sendiri, bisa jadi guru terisolasi dengan sejawat guru

yang lainnya.
4). Banyaknya bidang yang harus dikuasai oleh guru, mengharuskan guru

mengadakan persiapan terus-menerus, sehingga waktu guru lebih banyak

dipergunakan untuk persiapan.

  1. e.       Pembelajaran Beregu (Team Teaching)

Yang dimaksud dengan team teaching adalah suatu pengelompokan yang di dalamnya ada sekelompok peserta didik dibelajarkan oleh guru secara tim. Dalam pembelajaran ini, guru lebih membatasi diri pada kapasitas keahliannya, dan sama sekali tidak mengajarkan apa yang ada di luar keahliannya. Hal demikian dapat terjadi, oleh karena tidak jarang satu mata pelajaran atau bidang studi, membutuhkan keahliannya yang bermacam-macam.
Dalam suatu tim, guru merancang pembelajaran secara bersama-sama dengan anggota timnya, dan mengadakan pembagian yang jelas antara apa yang harus ia kerjakan sendiri, apa yang harus dikerjakan oleh anggota tim yang lain, dan apa yang harus dikerjakan secara bersama-sama secara tim. Peserta didik, dalam pembelajaran ini akan mendapatkan sesuatu dalam perspektif yang lebih luas, mengingat sesuatu yang dipelajari, dikemukakan oleh guru dari berbagai macam perspektif keahlian.
Keuntungan sistem pengelompokan demikian adalah:
1). Setiap angota tim pembelajar, akan bekeja sesuai dengan sudut pandang

keahliannya. Hal ini tidak saja bermanfaat bagi peserta didiknya yang

mendapatkan pengetahuan dari perspektif ang lebih luas, melainkan juga

bermanfaat bagi guru itu sendiri. Guru-guru ang terlibat dala tim, kerena terus

menerus mengembangkan spesialisasinya, akhirnya mereka nantinya akan ahli

benar dalam bidangnya.
2). Oleh karena merupaka kerja tim, maka jika guru yang satu berhalangan dengan

mudah dapat digantikan oleh guru lain yang tidak berhalangan; dengan

demikian, tidak terjadi kekosongan guru.
Sedangkan kekurangannya adalah:
1). Jika anggota tim tidak baik kerja samanya, tidak mustahil justru menggagalkan

pembelajaran tim.
2). Banyak waktu yang dipergunakan untuk merencanakan kerja tim, terutama

jika disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.
3). Dalam operasinya memerlukan tempat dan ruang khusus.

  1. f.        Departementalisasi

Yang dimaksud dengan departementalisasi adalah suatu sistem pengelompokan peserta didik, yang di dalamnya guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu. Oleh karena guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu, maka yang mereka ajarkan hanyalah mata pelajaran tertentu juga.
Beberapa keuntungan sistem pengelompokan departementalisasi adalah sebagai berikut:
1). Guru akan lebih kompeten mengajarnya, oleh karena ia mendalami terhadap

apa yang akan mereka ajarkan. Kompetensi mereka setidak-tidaknya pada

penguasaan bahan ajaran.
2). Peserta didik mendapatkan pengetahuan yang dalam dan menyakinkan, oleh

karena yang memberikan adalah mereka yang benar-benar ahli di bidangnya.

Kekurangan sistem pengelompokan demikian adalah:
1). Mengingat guru terpacu dengan keahliannya sendiri, maka pada saat guru yang

lain tidak hadir, dia tidak bisa menggatikannya.
2). Kecenderungan guru untuk merasa ahli di bidangnya bisa menjadi penyebab

yang bersangkutan bisa merasa tidak perlu belajar lagi. Hal ini akan

menyebabkan guru tersebut semakin tertinggal dengan laju pertumbuhan ilmu

pengetahuan dan teknologi, termasuk yang berada di bidangnya.

3). Guru cenderung menganggap bahwa keahliannya lebih penting

     dibangdingkan dengan keahlian orang lain. Hal ini bisa menjadi penyebab dia

berambisi secara sektoral terhadap ilmunya sendiri, dan lebih lanjut ia

menganggap bahwa keahliannyalah yang lebih penting untuk diajarkan. Ada

efek pengiring sikap guru ini terhadap peserta didiknya, yaitu peserta didik

akan serupa dengan gurunya.

  1. g.      Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan (Ability Grouping)

Yang dimasksud dengan ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan peserta didik. Peserta didik yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama ditempatkan pada kelompok yang sama. Peserta didik yang sama-sama tinggi kemampuannya ditempatkan pada kelompok yang kemampuannya tinggi, sementara peserta didik yang kemampuannya rendah ditempatkan dalam kelompok peserta didik yang berkemampuan rendah.
Keuntungan ability grouping adalah:

1). Guru akan mudah menyesuaikan pengajarannya sesuai dengan kemampuan peserta didiknya.

2). Peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih tingi, tidak merasa terhambat perkembangannya oleh peserta didik yang berkemampuan rendah.

3). Peserta didik yang mempunyai kemampuan sama akan dapat saling mengisi, sehingga semakin mempercepat perkembangan dan mempertinggi kemampuan mereka.

4). Peserta didik yang berkemampuan rendah tidak merasa tertinggal jauh dengan anggota kelompoknya, hal ini bisa menjadikan mereka frustasi.

Kelemahan ability grouping adalah:

1.  Guru harus membuat persiapan yang berbeda-beda, ada rancangan     pembelajaran yang dikhususkan untuk peserta didik berkemampuan rendah, dan ada yang dikhususkan untuk peserta didik yang berkemempuan tinggi.

2. Peserta didik merasa terganggu privacy-nya jika dimasukkan kedalam kelompok inferior.

3. Peserta didik yang masuk ke dalam kelompok superior merasa dirinya lebih

dan sombong serta suka membanggakan diri.

Sapartinah Pakasi, melaluai eksperimentasi di Sekolah Dasar Laboratorium IKIP Malang (kini Universitas Negeri Malang), mengelompokkan peserta didiknya berdasarkan prestasi belajarnya di kelas. Pengelompokan demikian ia namai dengan achievement grouping. Dengan adanya pengelompokan demikian, maka peserta didik yang berprestasi tinggi dikelompokkan dengan peserta didik yang berprestasi tinggi, sementara yang berprestasi rendah, dikelompokkan ke dalam yang berprestasi rendah.
Ada tiga macam pengelompokan yang didasarkan atas achievement grouping ini, yaitu: kelompok untuk peserta didik yang cepat berpikir, kelompok untuk peserta didik yang sedang dan kelompok untuk peserta didik yang lambat belajar. Yeager (Ali Imron, 1995; 86) mengemukakan bahwa pengelompokan dapat didasarkan atas fungsi perbedaan. Pengelompokan menurut fungsi integrasi adalah pengelompokan yang didasarkan atas kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik. Pengelompokan tersebut meliputi, yang didasarka atas umur, jenis kelamin, dan sebagainya. Pengelompokan ini melahirkan pembelajaran yang bersifat klasikal.
Pengelompokan yang didasarkan atas fungsi perbedaan adalah yang diaksentuasikan pada perbedaan individual peserta didik. Pengelompokan menurut fungsi perbedaan demikian, melahirkan pembelajaran individual.
Hendyat Soetopo (1989) mengemukakan empat dasar pengelompokan peserta didik, yaitu: friendship grouping, achievement grouping, aptitude grouping, attention or interest grouping dan intelegen grouping.

  1. Pengelompokan Berdasarkan Kesukaan Memilih Teman (Friendship Grouping)

Yang dimaksud dengan friednship grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kesukaan memilih teman. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk memilih anggota kelompoknya sendiri serta menetapkan orang-orang yang dijadikan sebagai pemimpin kelompoknya.
Ada kecenderungan, pengelompokan demikian menjadikan peserta didik yang pandai cenderung memilih temannya yang pandai sebagai anggota kelompoknya. Tidak jarang, mereka yang tidak pandai juga mendapatkan angota kelompok yang tidak pandai. Pada hal, kualitas suatu kelompok ditentukan juga oleh bobot masing-masing anggotanya

  1. Pengelompokan Berdasarkan Prestasi (Achievement Grouping)

Achievement grouping adalah suatu pengelompokan yang didasarkan atas prestasi peserta didik. Secara jelas, pengelompokan demikian telah diuraikan diatas.

  1. Pengelompokan Berdasarkan Bakat (Aptitude Grouping)

Aptitude grouping adalah suatu pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kemampuan dan bakat mereka.

  1. Pengelompokan Berdasarkan Minat (Attention or Interest       Grouping)
    Attention or interest grouping
    adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas perhatian mereka atau minat mereka. Pengelompokan demikian dilakukan, oleh karena tidak semua peserta didik yang berbakat mengenai sesuatu dan sekaligus juga meminatinya. Tidak semua peserta didik yang mampu sesuatu sekaligus juga meminatinya.
  2. Pengelompokan Berdasarkan Kecerdasan (Intelegence Grouping)
     Intelegence grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas hasil tes kecerdasan atau intelegensi.

Daftar Rujukan

Imron, Ali. 1994. Manajemen Peserta Didik diSekolah. Malang: IKIP Malang

Sahertian, I.A, Drs. I982. Administrasi Sekolah Modern.Malang: IKIP Malang

Tim dosen AP. 1989  .Administrasi Pendidikan.Malang: Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang

Khusnuridlo, 2010. Pengaturan Pengelompokkan Peserta Didik, (online).

( http://www.khusnuridlo.com/…/pengaturan-pengelompokan-peserta-didik.html, diakses pada kamis 16 September 2010).

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.